Agak lama blog ini sepi tanpa sebarang kalimat. Kematian saudara Asri (Vokalis RABBANI) secara tiba-tiba mengiakan betapa berharganya setiap detik dan masa untuk senantiasa memperhambakan diri buat Dia Yang Maha Berhak demi kerukunan hablumminAllah dan saling bermaaf-maafan sesama insan demi kerukunan hablumminnas. Saya titipkan sebuah sajak yang dikirim oleh seorang rakan saya yang berbunyi begini:
ANDAI INI RAMADHAN YANG TERAKHIR
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu. ..kepada- NYA Tuhan yang satu
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu sholat yang dikerjakan
sungguh khusyuk lagi tawadhu'tubuh dan qalbu...
bersatu memperhamba diri menghadap Rabbul Jalil...
menangisi kecurangan janji "innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kau dendang...
bakal kau syairkan
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu malammu engkau sibukkan dengan bertarawih.. .berqiamullail. ..bertahajjud
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih "sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MUtapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kita buru...kita cari...suatu malam idaman yang lebih baik dari seribu bulan
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiap diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...
lorong-lorong redha Ar-Rahman duhai Ilahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah ia Ramadhan paling berarti...
paling berseri...menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridha serta kasih sayangMu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti
namun teman...tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu
hanyalah berusaha...bersedia ...meminta belas dan rahmat-NYA
Salam Ramadhan!
Friday, August 14, 2009
Monday, June 15, 2009
Ulama' dan Umara'
Tidak ada bedanya ucapan ulama' dan umara'. Ucapan ulama' adalah ucapan ratu. Ana mengajak sahabat-sahabat sekalian berlumba dalam kebaikan. Di tangan kita, negeri ini menjadi hitam atau putih atau tenggelam ke dasar samudera kerna dosa-dosa kita.......
Sunday, June 14, 2009
Medan Dalam Ingatan
Saturday, June 13, 2009
Sikap Keberagamaan Intrinsik dan Ekstrinsik
Tanggal 14 Jun 2009, tatkala selesai solat subuh, mata ana terpaku kepada senarai 'what-to-do list'. Ada 3 tugas besar yang harus ana laksanakan sebelum tiba deadline agar tidak mengundang stress. Pertama, kertas kerja untuk dibentangkan di Bengkel Siswazah Antarabangsa ISDEV. Kedua, persediaan slide presentation untuk kertas kerja yang akan dibentangkan di Seminar Ekonomi Islam anjuran USIM. Ketiga, persediaan untuk dapatan kajian sebenar bagi tesis ana (ini yang paling penting). Daripada ketiga-tiga tugasan ini, entah kenapa hati ana lebih tergerak untuk cakna hal yang pertama.
Ana merenung kembali tajuk kertas kerja ana di INGRAW09. Ada beberapa kata kunci penting yang membina tajuk keseluruhannya, 'Penentu Ekstrinsik Dalam Pemilihan Bank Menurut Perspektif Muslim Yang Ideal: Satu Perbincangan Pakar', iaitu 'ekstrinsik'. Kata kunci ini harus ana fahami sedalam mungkin sama ada secara literal atau harafiah agar kupasannya menjadi tepat dan dapat berhujah secara dialektikal dan saintifik.
Ana cuba melayari internet untuk mendapat lebih banyak takrifan dan perbincangan tentang 'ekstrinsik'. Daripada pelbagai sumber yang ada, ana terjumpa satu tulisan yang agak menarik untuk didiskusikan kita bersama. Tulisan ringkas yang bertajuk 'Sikap Keberagamaan Instrinsik dan Ekstrinsik' oleh Saudara Jalaluddin Rakhmat mengupas secara ringkas maksud beragama secara 'hakikat'. Tulisan beliau berbunyi begini:
Banyak tokoh psikologi bersikap kurang simpatik terhadap tokoh-tokoh agama. William James, misalnya, menganggap tokoh agama sebagai creatures of exalted emotional sensibility, suatu gelar yang panjang dan tidak enak. Menurutnya, para Nabi atau orang-orang suci dihinggapi perasaan yang berlebih-lebihan: melankoli, halusinasi, mendengar suara atau melihat visi dan berbagai karakteristik patologikal lainnya. Sigmund Freud menganggap agama sebagai universal obsessional neurosis. Boisen (Anton T. Boisen) bahkan berteori bahwa sebelum orang menghayati agama lebih baik, ia harus menderita sakit jiwa terlebih dahulu –orang-orang beragama harus melewati tahap skizoprenia lebih dahulu. (Tetapi belakangan saya mendengar bahwa banyak tokoh psikologi, yang memandang tokoh agama sebagai psikopat itu, ternyata menderita gangguan jiwa juga. Menurut Zilboorg sepanjang hidup Freud dihantui oleh death anxiety. Pesimisme dan sikap penyedihnya mencerminkan depressive neurosis. Dan William James, menurut penulis biografinya, ditandai oleh emosi yang tidak stabil. “Oscillation is profoundly characteristic of James’s nature”. Lalu, Boisen pun mengemukakan hipotesisnya justru setelah sembuh dari skizoprenia.
Dua Macam Cara Beragama
Namun, terdapat pula psikologi yang bersifat simpatik terhadap agama. Psikolog itu ialah Gordon W. Allport. Sebelumnya, dianggap tidak ada bukti yang kuat bahwa orang-orang beragama lebih sehat mentalnya daripada orang-orang yang tidak beragama. Tapi, menurut Allport, untuk bisa menyatakan demikian, kita harus mendefinisikan lebih dahulu apa arti beragama. Ada dua macam cara beragama: yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri Orang yang beragama dengan cara ini, melasanakan bentuk-bentuk luar dari agama, ia puasa, shalat, naik haji, dan sebagainya –tetapi tidak di dalamnya. Kata Allport, cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Saya ingin menyatakan bahwa cara beragama seperti ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih saying. Sebaliknya, kebencian, irihati, dan fitnah masih akan tetapi berlangsung.
Pada yang kedua, yang intrinsic, yang dianggap menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai comprehensive commitment, dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor). Cara beragama seperti ini, terhunjam ke dalam diri penganutnya. Hanya dengan cara itu kita mampu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang.
Dimensi Mahapenting Ajaran Allah SWT
Bila Kristen memandang kasih sebagai tonggak agamanya, Islam memandang silaturahim sebagai dimensi mahapenting ajaran Allah. Silaturahim merupakan perintah Allah yang kedua setelah takwa (QS. 4:11). Nabi Muhammad diutus tidak lain untuk menyebarkan rahmat (kasih sayang) kepada seluruh alam (QS. 21:107). Ketika Allah menciptakan kasih sayang, Dia berfirman kepadanya, “Aku ar-Rahman, Aku berikan kepadamu (kepada kasih sayang) Nama-Ku. Barangsiapa menyambungkan engkau Aku pun akan menyambungkan Diri-Ku denganmu. Barangsiapa memutuskan engkau, Aku pun akan memutuskan diriku denganmu.” Ketika suatu hari disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw perihal seorang yang shalat di malam hari, dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lidahnya, Nabi Muhammad menjawab dengan singkat, “Ia di neraka”. Secara ekstrinsik beragama, tetapi secara intrinsik ia tidak beragama. Silaturahim memang tidak bisa dijalin dengan sekian kali lebaran, sekian kali halal bi halal, apalagi sekian menit khotbat.
Thomas Merton, dalam bukunya Mysticism in the Nuclear Age, berkata: “Anda tidak dapat mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal shaleh. Anda tidak dapat memperoleh tatanan social tanpa kehadiran kaum mistik, orang-orang suci, dan nabi-nabi.” Di dalam Islam, tidak akan ada nabi lagi, tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orang suci. Orang suci adalah manusia takwa yang (tanda-tandanya), menurut Al-Qur’an surat Ali Imran: 134-135 ialah “menafkahkan hartanya dalam suka dan duka, menahan marahnya, memaafkan orang lain, senang berbuat baik, apabila berbuat salah, cepat-cepat ingat Allah dan bertobat atas segala dosanya. Siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah, kemudian tidak mengulangi lagi perbuatan salahnya.” Berdasarkan itu, silaturahim menuntut seseorang agar memperhatikan orang lain dengan infaq, mengendalikan emosi, memaafkan yang berbuat salah, dan sebanyak mungkin mengisi hidup ini dengan kebaikan.
Menurut ana, penulis telah mengetengahkan 3 hal utama. Pertama, terdapat perbezaan yang ketara antara konsep intrinsik dan ekstrinsik. Kedua, intrinsik seharusnya menunjangi ekstrinsik dalam apa jua perbuatan. Ketiga, takrifan intrinsik dan ekstrinsik yang dihujahkan oleh Sarjana Barat harus difahami secara berhati-hati.
Ketiga-tiga hal ini jugalah yang menjadi antara nadi kepada pembentukan satu kerangka konsep daripada tesis ana. Ana berpendapat Islam diturunkan dengan penuh kesempurnaan. Pada ketika manusia itu dihiasi dengan pelbagai spesifikasi (keperluan dan kehendak), kesemua itu adalah fitrah. Tidak lain dan tidak bukan, persis alat untuk meraih kebergantungan rohani dan jasmani antara seorang hamba dengan khaliknya.
Justeru, ana bersetuju dengan keseluruhan pandangan penulis. Walau bagaimanapun ana berpendapat ada sisi yang tidak disentuh. Sama ada intrinsik atau ekstrinsik, kedua-duanya perlu bersandarkan kepada al-Quran dan al-Hadith. Ertinya, meskipun ekstrinsik itu neutral pada sifatnya, ia seharusnya ditunjangi iman, amal dan akhlak supaya natijahnya mendatangkan kesan yang baik tidak hanya kepada individu tetapi juga masyarakat.
Perkara inilah yang akan ana kupas dan garap di dalam kertas kerja ana dengan tumpuan kepada dapatan temubual bersama pakar-pakar Perbankan dan Kewangan Islam yang terdiri daripada tokoh agama, pengamal, perunding dan ahli akademik.
Ana merenung kembali tajuk kertas kerja ana di INGRAW09. Ada beberapa kata kunci penting yang membina tajuk keseluruhannya, 'Penentu Ekstrinsik Dalam Pemilihan Bank Menurut Perspektif Muslim Yang Ideal: Satu Perbincangan Pakar', iaitu 'ekstrinsik'. Kata kunci ini harus ana fahami sedalam mungkin sama ada secara literal atau harafiah agar kupasannya menjadi tepat dan dapat berhujah secara dialektikal dan saintifik.
Ana cuba melayari internet untuk mendapat lebih banyak takrifan dan perbincangan tentang 'ekstrinsik'. Daripada pelbagai sumber yang ada, ana terjumpa satu tulisan yang agak menarik untuk didiskusikan kita bersama. Tulisan ringkas yang bertajuk 'Sikap Keberagamaan Instrinsik dan Ekstrinsik' oleh Saudara Jalaluddin Rakhmat mengupas secara ringkas maksud beragama secara 'hakikat'. Tulisan beliau berbunyi begini:
Banyak tokoh psikologi bersikap kurang simpatik terhadap tokoh-tokoh agama. William James, misalnya, menganggap tokoh agama sebagai creatures of exalted emotional sensibility, suatu gelar yang panjang dan tidak enak. Menurutnya, para Nabi atau orang-orang suci dihinggapi perasaan yang berlebih-lebihan: melankoli, halusinasi, mendengar suara atau melihat visi dan berbagai karakteristik patologikal lainnya. Sigmund Freud menganggap agama sebagai universal obsessional neurosis. Boisen (Anton T. Boisen) bahkan berteori bahwa sebelum orang menghayati agama lebih baik, ia harus menderita sakit jiwa terlebih dahulu –orang-orang beragama harus melewati tahap skizoprenia lebih dahulu. (Tetapi belakangan saya mendengar bahwa banyak tokoh psikologi, yang memandang tokoh agama sebagai psikopat itu, ternyata menderita gangguan jiwa juga. Menurut Zilboorg sepanjang hidup Freud dihantui oleh death anxiety. Pesimisme dan sikap penyedihnya mencerminkan depressive neurosis. Dan William James, menurut penulis biografinya, ditandai oleh emosi yang tidak stabil. “Oscillation is profoundly characteristic of James’s nature”. Lalu, Boisen pun mengemukakan hipotesisnya justru setelah sembuh dari skizoprenia.
Dua Macam Cara Beragama
Namun, terdapat pula psikologi yang bersifat simpatik terhadap agama. Psikolog itu ialah Gordon W. Allport. Sebelumnya, dianggap tidak ada bukti yang kuat bahwa orang-orang beragama lebih sehat mentalnya daripada orang-orang yang tidak beragama. Tapi, menurut Allport, untuk bisa menyatakan demikian, kita harus mendefinisikan lebih dahulu apa arti beragama. Ada dua macam cara beragama: yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri Orang yang beragama dengan cara ini, melasanakan bentuk-bentuk luar dari agama, ia puasa, shalat, naik haji, dan sebagainya –tetapi tidak di dalamnya. Kata Allport, cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Saya ingin menyatakan bahwa cara beragama seperti ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih saying. Sebaliknya, kebencian, irihati, dan fitnah masih akan tetapi berlangsung.
Pada yang kedua, yang intrinsic, yang dianggap menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai comprehensive commitment, dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor). Cara beragama seperti ini, terhunjam ke dalam diri penganutnya. Hanya dengan cara itu kita mampu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang.
Dimensi Mahapenting Ajaran Allah SWT
Bila Kristen memandang kasih sebagai tonggak agamanya, Islam memandang silaturahim sebagai dimensi mahapenting ajaran Allah. Silaturahim merupakan perintah Allah yang kedua setelah takwa (QS. 4:11). Nabi Muhammad diutus tidak lain untuk menyebarkan rahmat (kasih sayang) kepada seluruh alam (QS. 21:107). Ketika Allah menciptakan kasih sayang, Dia berfirman kepadanya, “Aku ar-Rahman, Aku berikan kepadamu (kepada kasih sayang) Nama-Ku. Barangsiapa menyambungkan engkau Aku pun akan menyambungkan Diri-Ku denganmu. Barangsiapa memutuskan engkau, Aku pun akan memutuskan diriku denganmu.” Ketika suatu hari disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw perihal seorang yang shalat di malam hari, dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lidahnya, Nabi Muhammad menjawab dengan singkat, “Ia di neraka”. Secara ekstrinsik beragama, tetapi secara intrinsik ia tidak beragama. Silaturahim memang tidak bisa dijalin dengan sekian kali lebaran, sekian kali halal bi halal, apalagi sekian menit khotbat.
Thomas Merton, dalam bukunya Mysticism in the Nuclear Age, berkata: “Anda tidak dapat mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal shaleh. Anda tidak dapat memperoleh tatanan social tanpa kehadiran kaum mistik, orang-orang suci, dan nabi-nabi.” Di dalam Islam, tidak akan ada nabi lagi, tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orang suci. Orang suci adalah manusia takwa yang (tanda-tandanya), menurut Al-Qur’an surat Ali Imran: 134-135 ialah “menafkahkan hartanya dalam suka dan duka, menahan marahnya, memaafkan orang lain, senang berbuat baik, apabila berbuat salah, cepat-cepat ingat Allah dan bertobat atas segala dosanya. Siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah, kemudian tidak mengulangi lagi perbuatan salahnya.” Berdasarkan itu, silaturahim menuntut seseorang agar memperhatikan orang lain dengan infaq, mengendalikan emosi, memaafkan yang berbuat salah, dan sebanyak mungkin mengisi hidup ini dengan kebaikan.
Menurut ana, penulis telah mengetengahkan 3 hal utama. Pertama, terdapat perbezaan yang ketara antara konsep intrinsik dan ekstrinsik. Kedua, intrinsik seharusnya menunjangi ekstrinsik dalam apa jua perbuatan. Ketiga, takrifan intrinsik dan ekstrinsik yang dihujahkan oleh Sarjana Barat harus difahami secara berhati-hati.
Ketiga-tiga hal ini jugalah yang menjadi antara nadi kepada pembentukan satu kerangka konsep daripada tesis ana. Ana berpendapat Islam diturunkan dengan penuh kesempurnaan. Pada ketika manusia itu dihiasi dengan pelbagai spesifikasi (keperluan dan kehendak), kesemua itu adalah fitrah. Tidak lain dan tidak bukan, persis alat untuk meraih kebergantungan rohani dan jasmani antara seorang hamba dengan khaliknya.
Justeru, ana bersetuju dengan keseluruhan pandangan penulis. Walau bagaimanapun ana berpendapat ada sisi yang tidak disentuh. Sama ada intrinsik atau ekstrinsik, kedua-duanya perlu bersandarkan kepada al-Quran dan al-Hadith. Ertinya, meskipun ekstrinsik itu neutral pada sifatnya, ia seharusnya ditunjangi iman, amal dan akhlak supaya natijahnya mendatangkan kesan yang baik tidak hanya kepada individu tetapi juga masyarakat.
Perkara inilah yang akan ana kupas dan garap di dalam kertas kerja ana dengan tumpuan kepada dapatan temubual bersama pakar-pakar Perbankan dan Kewangan Islam yang terdiri daripada tokoh agama, pengamal, perunding dan ahli akademik.
Friday, June 12, 2009
Assalamualaikum
I'm back! Definitely so many stories to be shared with all of you. My fieldwork's experience, IPTA Games 2009 and etc.
Monday, April 20, 2009
Program Ke Medan 4-10 Mei 2009
InsyaAllah andainya diizinkanNya, saya bersama teman-teman dari Pusat Kajian Pengurusan Pembangunan Islam (ISDEV) diketuai oleh Profesor Muhammad Syukri Salleh (Pengarah ISDEV) akan bertapak di Medan selama seminggu bagi menghadiri pelbagai program akademik dan kerohanian di sana. InsyaAllah pada 8 Mei nanti (Workshop Antarabangsa Wakaf), saya akan membentangkan satu kertas kerja bertajuk "Wakaf Sebagai Instrumen Pengekalan Hak Milik dan Perluasan Manfaat".
Abstrak kertas kerja ini berbunyi begini:
Tanah wakaf terbiar dan tidak dibangunkan diketahui umum sebagai salah satu isu dominan dalam konteks pembangunan tanah wakaf di Malaysia. Usaha-usaha ke arah pengenalpastian punca-punca yang mengekang keberkesanannya juga telah banyak dilakukan oleh pelbagai pihak. Paling kerap dibincangkan ialah faktor status tanah, lokasi, ciri-ciri fizikal tanah, pendaftaran pemilikan, pangkalan data dan ketiadaan modal untuk memajukannya. Persoalan tentang keterbatasan kaedah dan prosedur mewakafkan tanah bagaimanapun jarang diberi tumpuan. Kertas kerja ini cuba mengetengahkan satu kaedah membangunkan tanah wakaf secara optimum berdasarkan konsep dalaman dan luaran yang dimiliki oleh instrumen wakaf itu sendiri. Oleh kerana cadangan ini berbentuk teoritis, persoalan praktikaliti yang berkaitan dengan hal-hal perundangan, teknikaliti dan sebagainya diketepikan dahulu. Paling penting, kaedah ini tidak hanya mengekalkan hak milik, tetapi juga memperluaskan manfaat tanah wakaf sekaligus mencapai matlamat pengoptimuman.
Abstrak kertas kerja ini berbunyi begini:
Tanah wakaf terbiar dan tidak dibangunkan diketahui umum sebagai salah satu isu dominan dalam konteks pembangunan tanah wakaf di Malaysia. Usaha-usaha ke arah pengenalpastian punca-punca yang mengekang keberkesanannya juga telah banyak dilakukan oleh pelbagai pihak. Paling kerap dibincangkan ialah faktor status tanah, lokasi, ciri-ciri fizikal tanah, pendaftaran pemilikan, pangkalan data dan ketiadaan modal untuk memajukannya. Persoalan tentang keterbatasan kaedah dan prosedur mewakafkan tanah bagaimanapun jarang diberi tumpuan. Kertas kerja ini cuba mengetengahkan satu kaedah membangunkan tanah wakaf secara optimum berdasarkan konsep dalaman dan luaran yang dimiliki oleh instrumen wakaf itu sendiri. Oleh kerana cadangan ini berbentuk teoritis, persoalan praktikaliti yang berkaitan dengan hal-hal perundangan, teknikaliti dan sebagainya diketepikan dahulu. Paling penting, kaedah ini tidak hanya mengekalkan hak milik, tetapi juga memperluaskan manfaat tanah wakaf sekaligus mencapai matlamat pengoptimuman.
Hambatan Kelancaran Pengutipan Data Melalui Kaedah Tinjauan
Agak lama blog ini menjadi sepi tanpa tulisan. Bukan kepupusan idea tetapi ruang waktu yang agak terbatas menghambat segala titik temu mencurahkan segala peristiwa dan pengalaman yang telah, sedang dan akan berlaku.
Saya kini sedang menjalani proses pengutipan data dalam kalangan pengguna Muslim yang berurusan dengan bank-bank Islamik di seluruh Terengganu. Sasarannya ialah seramai 500 orang. Data primer ini tidak semudah yang disebut dalam proses mendapatkan data. Sepanjang seminggu menjalani proses ini, ada 3 perkara yang menjadi hambatan kepada kelancarannya.
Pertama, kesediaan pengguna bank untuk menjadi responden. Pernah suatu ketika dahulu saya didekati pembanci yang menghulurkan borang soal selidik, mengharapkan belas ihsan saya untuk menjawab segala persoalan yang dikemukakan. Ada ketika saya begitu pasif dan begitulah sebaliknya. Tetapi kini segalanya berubah. Ungkapan 'if I were in your shoes.....' menjadi motivasi utama untuk memberi sumbangan kepada mana-mana bentuk kajian selagimana mampu. Pada ketika saya pula yang berperanan sebagai seorang penyelidik, perasaan yang samalah bertamu di dalam hati, mengharapkan setiap orang yang didekati bermurah hati menghulurkan sedikit ruang waktu untuk 'bersama' dengan saya berwasilahkan borang soal selidik.
Kedua, kemampuan kewangan dan kesihatan tubuh badan. Ada orang sihat tubuh badan tetapi tiada wang yang cukup untuk menjayakan sesebuah kajian. Ada orang banyak wang tetapi tidak punya kesihatan tubuh badan. Kedua-dua ini tidak membolehkan kita untuk menyempurnakan sesebuah kajian apa lagi yang berbentuk kuantitatif. Apa tidaknya? Kajian berkaedah kuantitatif sangat mementingkan aspek kecukupan data yang lazimnya dikaitkan dengan bilangan responden yang ramai. Semakin ramai responden yang terlibat, semakin tinggilah tahap perbelanjaan kajian.
Ketiga, tahap kejelasan soalan dalam borang soal selidik. Dalam kes saya, sebelum memulakan kajian sebenar, saya telah menjalankan proses kajian rintis (untuk menentukan kesesuaian reka bentuk kajian) dan ujian rintis (untuk menentukan tahap kesesuaian reka bentuk soal selidik termasuklah tahap kejelasan). Untuk proses ujian rintis sahaja, saya melakukannya sebanyak 2 kali yang melibatkan sejumlah 60 orang responden. Tujuan utamanya tidak lain dan tidak bukan, untuk mempastikan kejelasan soalan berada pada tahap maksimum. Setelah melakukan semua proses ini, malangnya masih lagi terdapat sebilangan responden yang tidak begitu faham dengan kehendak salah satu daripada 5 bahagian dalam borang soal selidik saya. Mujurlah tatacara mengutip data melalui borang soal selidik ini berbentuk tinjauan secara bersemuka. Kaedah ini sudah tentu dapat mengatasi segala permasalahan yang timbul yang kerap berlaku dalam kalangan mereka yang tidak berpendidikan tinggi dan warga emas.
Saya kini sedang menjalani proses pengutipan data dalam kalangan pengguna Muslim yang berurusan dengan bank-bank Islamik di seluruh Terengganu. Sasarannya ialah seramai 500 orang. Data primer ini tidak semudah yang disebut dalam proses mendapatkan data. Sepanjang seminggu menjalani proses ini, ada 3 perkara yang menjadi hambatan kepada kelancarannya.
Pertama, kesediaan pengguna bank untuk menjadi responden. Pernah suatu ketika dahulu saya didekati pembanci yang menghulurkan borang soal selidik, mengharapkan belas ihsan saya untuk menjawab segala persoalan yang dikemukakan. Ada ketika saya begitu pasif dan begitulah sebaliknya. Tetapi kini segalanya berubah. Ungkapan 'if I were in your shoes.....' menjadi motivasi utama untuk memberi sumbangan kepada mana-mana bentuk kajian selagimana mampu. Pada ketika saya pula yang berperanan sebagai seorang penyelidik, perasaan yang samalah bertamu di dalam hati, mengharapkan setiap orang yang didekati bermurah hati menghulurkan sedikit ruang waktu untuk 'bersama' dengan saya berwasilahkan borang soal selidik.
Kedua, kemampuan kewangan dan kesihatan tubuh badan. Ada orang sihat tubuh badan tetapi tiada wang yang cukup untuk menjayakan sesebuah kajian. Ada orang banyak wang tetapi tidak punya kesihatan tubuh badan. Kedua-dua ini tidak membolehkan kita untuk menyempurnakan sesebuah kajian apa lagi yang berbentuk kuantitatif. Apa tidaknya? Kajian berkaedah kuantitatif sangat mementingkan aspek kecukupan data yang lazimnya dikaitkan dengan bilangan responden yang ramai. Semakin ramai responden yang terlibat, semakin tinggilah tahap perbelanjaan kajian.
Ketiga, tahap kejelasan soalan dalam borang soal selidik. Dalam kes saya, sebelum memulakan kajian sebenar, saya telah menjalankan proses kajian rintis (untuk menentukan kesesuaian reka bentuk kajian) dan ujian rintis (untuk menentukan tahap kesesuaian reka bentuk soal selidik termasuklah tahap kejelasan). Untuk proses ujian rintis sahaja, saya melakukannya sebanyak 2 kali yang melibatkan sejumlah 60 orang responden. Tujuan utamanya tidak lain dan tidak bukan, untuk mempastikan kejelasan soalan berada pada tahap maksimum. Setelah melakukan semua proses ini, malangnya masih lagi terdapat sebilangan responden yang tidak begitu faham dengan kehendak salah satu daripada 5 bahagian dalam borang soal selidik saya. Mujurlah tatacara mengutip data melalui borang soal selidik ini berbentuk tinjauan secara bersemuka. Kaedah ini sudah tentu dapat mengatasi segala permasalahan yang timbul yang kerap berlaku dalam kalangan mereka yang tidak berpendidikan tinggi dan warga emas.
Subscribe to:
Posts (Atom)